Articles by "Politik"
Foto : Ilustrasi
TARAKAN, PenaKaltara.com -- Calon Petahana memang cukup menjanjikan untuk diusung. Mungkin setidaknya itulah yang ada dalam benak petinggi tiga partai yakni Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah "bicara" sana sini, ketiga partai yang tergolong cukup besar di Tarakan ini tampaknya sepakat untuk memantapkan langkahnya dalam Pilkada Tarakan 2018 dengan mengusung calon petahana Sofian Raga atau lazim dikenal dengan singkatan SORGA. 

Berbagai alasan pengusungan pun bermunculan. PAN Kota Tarakan berdasarkan informasi yang dihimpun PenaKaltara.com dari beberapa media lokal mengatakan bahwa hanya SORGA lah yang dapat diusung oleh PAN dengan pertimbangan SORGA akan menggandeng kader PAN untuk maju dalam Pilkada Tarakan 2018. Seperti punya hubungan khusus, Sekretaris DPD PAN Tarakan, Makbul SE mengaku SORGA telah berjanji akan tetap "setia" dengan partai pemenang pemilu tahun 2014 itu.

Sedangkan, Partai Gerindra mengaku alasan mengusung SORGA tak lain lantaran  merasa bahwa SORGA memiliki Frame (Bingkai.Red) politik yang sama dengan partai berlambang kepala burung garuda itu. "Kemudian SORGA juga memiliki kesamaan visi dengan kami," ujar Ketua DPC Gerindra, Rudi Hartono saat ditemui PenaKaltara.com, Selasa (28/11) siang.

Visi yang sama tentu tidak bertentangan dengan misi. Rudi Hartono mengungkap alasan lainnya yakni masukan-masukan baik dari kader partai maupun masyarakat beberapa waktu terakhir selalu mengarah kepada pasangan Sofian Raga dan Sabar Santuso. "Alasan paling utama sih ya petahana siap untuk memenangkan  Prabowo Subianto, dalam pemilihan presiden periode mendatang," ungkapnya.  "Maka dari itulah kami Partai Gerindra Tarakan Secara Resmi Mengusung Pasangan Sofian Raga - Sabar Santoso untuk menjadi Walikota dan Wakil Walikota  Tarakan 2019-2024, yang akan diselenggarakan Tahun 2018" jelas Rudi Hartono di sekretariatnya . 

Dukungan partai Gerindra sungguh membuat SORGA senang bukan kepalang. SORGA senantiasa "melantunkan" ucapan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Betapa tidak,  Dengan adanya tambahan dukungan dari partai besutan Prabowo Subianto ini, jumlah kursi yang sebelumnya hanya 5 kini bertambah menjadi 8 Kursi. "Sehingga mencapai target minimal, bagi pengusungan seorang Bakal Calon Walikota," ucap SORGA.
 
Senada namun tak sama,  PKS mengatakan akan secara all out mendukung SORGA yang berpasangan dengan kader PAN Sabar Santuso. PKS secara singkat menyatakan bahwa SORGA adalah orang yang tidak perlu dikhawatirkan lagi kredibilitasnya. "Karena sudah ada hasil yang bisa dilihat, dirasakan dan dinikmati," kata Mulkana selaku Ketua DPD PKS.

G. ADI KUSTANTO / RICORNIUS JEFFERSON ANTONIO DAO
 
Editor : Bobby Furtado

TARAKAN, PenaKaltara.com - Keinginan yang kuat untuk menduduki kursi kekuasaan administratif tertinggi di Kota Tarakan, inilah, yang membawa beberapa nama untuk mengajukan diri dalam pencalonan Walikota Tarakan 2018 nanti meskipun tanpa kendaraan politik (Partai .Red). Setidaknya, saat ini sudah ada 2 (dua) nama yang digadang-gadang akan mencalonkan diri.

Ya, Umi Suhartini dan Arif Hidayat. Dua nama yang akan maju di Pilkada 2018 tanpa dukungan Partai Politik alias Jalur Independen. Hal ini terlihat dari nama-nama pihak yang diundang untuk gelaran sosialisasi terhadap mekanisme pemberkasan serta syarat dan ketentuan bagi calon yang berniat maju secara perorangan. Dalam undangan sosialisasi terbatas yang digelar hari jumat lalu itu, hanya 2 (dua) orang ini yang diundang oleh KPUD sebagai peserta.

 "Itu dilakukan karena hanya 2 orang  inilah, yang sebelumnya mengkonfirmasi untuk pendaftaran atau tahapan independent dalam pilkada nanti," kata Ketua KPUD Tarakan, Teguh Dwi Subagyo kepada PenaKaltara, Rabu (22/11).

Meskipun undangan resmi diakui Teguh telah diserahkan kepada keduanya, namun yang hadir dalam agenda sosialisasi tersebut hanya Umi Suhartini. Sedangkan Arif Hidayat, masih kata Teguh, belum diketahui alasan ketidakhadirannya. "Padahal agenda tersebut sangat penting," tukasnya.

 "Walaupun hanya bu Umi yang hadir, tidak menutup kemungkinan balon atau pihak lainnya diam-diam lagi mengumpulkan KTP," katanya kepada wartawan PenaKaltara.

Untuk saat ini, kata Teguh, yang intens berkomunikasi dengan pihak KPUD terkait teknis penggunaan software silon dan tata cara untuk calon independen itu hanya Umi. Arif sendiri sampai saat ini belum ada konfirmasi kembali. Padahal sebelumnya, Arif lah orang pertama yang berkonsultasi soal mekanisme pencalonan jalur independen ini. "Waktu itu Arif datang bersama Joko Slamet untuk konsultasi," tutupnya.

Atas kabar itu, publik pun mulai berandai-andai. Apakah alasan Arif Hidayat tidak menghadiri sosialisasi itu lantaran dirinya berputus asa? entahlah. Namun bilamana iya, keputus-asaan itu bukan tidak mungkin. Mengingat sulitnya mengumpulkan dukungan KTP dari masyarakat serta kegiatan rutinitas yang cukup padat bagi Arif Hidayat yang juga masih menjabat sebagai Wakil Walikota ini.

Belum lagi, kabar mengenai matangnya persiapan Umi Suhartini untuk mencalonkan diri sebagai saingannya. Betapa tidak, menurut sumber PenaKaltara.com yang enggan namanya dipublis, Umi Suhartini mengklaim telah mengumpulkan sedikitnya 27 Ribu KTP untuk mengantarkan istri dari Bupati Kabupaten Tana Tidung tersebut untuk maju pada pertarungan Pilkada 2018 nanti.Tentunya kabar itu sudah cukup untuk membuat lawan tanding lemas.  

Sedangkan untuk Arif Hidayat hingga saat ini belum terlihat upaya-upaya pengumpulan KTP dukungan sama sekali. Bilamana kita melihat tenggat waktu pengumpulan berkas dukungan yang tinggal menghitung hari ini, tampaknya hanya Umi Suhartini-lah yang siap "melenggang kangkung" di jalur independen ini. Namun belum dapat dipastikan apakah Arif Hidayat benar-benar menyerah atau tidak. Sebab, mungkin saja ia sedang menerapkan strategi politik tertentu dimana publik akan mengetahuinya disaat yang sudah tepat menurutnya. Kita lihat saja nanti.

Dari Redaksi
-Coretan MasPena-

Reporter :  
- RICORNIUS JEFFERSON ANTONIO DAO
- GEGER ADI KUSTANTO

Editor : Bobby Furtado
Ketua KPUD Tarakan, Teguh Dwi Subagyo, ketia ditemui di ruangannya, Rabu (22/11). Foto : RC
TARAKAN, PENAKALTARA.COM - Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Tarakan,Teguh Dwi Subagyo mengatakan pihaknya memberikan waktu pengumpulan berkas dukungan bagi bakal calon (balon) independen selama 4 hari kerja dimulai sejak 25 Nopember 2017 hingga 29 Nopember 2017. Berkas dukungan dimaksud meliputi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pendukung disertai dengan penanda dukungan yang ditanda-tangani di atas materai..

"Berkas dukungan yang telah siap, diserahkan ke kami berbentuk hard copy dan soft copy," kata Teguh Dwi Subagyo ditemui di ruangannya, Rabu (22/11).

Nantinya, lanjut Teguh, data yang sudah terkumpul akan di input melalui sistem informasi pencalonan (SILON). "sistem ini juga nanti akan kita sosialisasikan, makanya ketika nanti ada kendala atau kebingungan bisa langsung datang untuk konsultasi ke kami," ujarnya.

Penyerahan berkas dukungan itu kata Teguh, belum dapat dikatakan sebagai wujud telah terdaftarnya balon sebagai calon Kepala Daerah. Karena berkas tersebut harus diverifikasi lagi oleh KPUD. Setelah terkumpul, terverifikasi dan dinyatakan lolos barulah balon dapat melakukan pendaftaran  pendaftaran tanggal 8 hingga 10 Januari tahun depan.

Kendati demikian, Teguh menegaskan bahwa tenggat waktu penyerahan berkas dukungan tersebut merupakan kesempatan terakhir yang diberikan KPUD kepada para balon yang menyatakan siap maju di Pilkada 2018 ini. "Berkas dukungan yang tidak memenuhi persyaratan atau terlambat diserahkan kepada kami maka dianggap gugur dan bisa dipastikan gagal mengikuti pencalonan." tegasnya

Adapun syarat minimal dukungan yang harus didapat oleh balon independent yakni sebanyak 14.405 KTP Pendukung. "Perhitungannya 10% dari Data Pemilih Tetap (DPT) pada pemilihan yang terakhir," terang Teguh.

Reporter : RICORNIUS JEFFERSON ANTONIO DAO
Editor : Bobby Furtado
"Jadi Pemimpin Itu Jangan Sok Ekskusif, Karena Masyakat Ga Butuh Itu"
TARAKAN, PenaKaltara.comKetua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI, Haryadi Hamid, berpendapat bahwa kriteria pemimpin yang dibutuhkan masyarakat Tarakan saat ini diantaranya adalah harus merakyat dan memiliki visi jangka panjang. 

"Figur pemimpin yang diinginkan oleh masyarakat itu yakni lebih merakyat, lebih mudah di temui masyarakat dan mau menghadiri acara  yang dilakukan masyarakat," katanya kepada wartawan PenaKaltara.com ketika disambangi di kediamannya, Minggu (19/11). Selain itu, yang tak kalah penting lagi menurutnya adalah pemimpin itu harus yang memiliki visi jangka panjang. Sehingga setiap persoalan yang ada di  Tarakan dapat diselesaikan dengan suatu terobosan-terobosan mutakhir.  

Dalam pada itu, pemimpin Tarakan nantinya haruslah yang memahami masalah mendasar bagi masyarakat Kota Tarakan. Menurut Haryadi, sedikitnya ada 3 (empat) persoalan mendasar yakni Pertama yakni masalah kelistrikan. Kedua, terkait kondisi ketersediaan air, Ketiga infrastruktur terutama akses jalan.

GEGER ADI KUSTANTO

Editor : Bobby Furtado


Copyright By. PenaKaltara.com

TARAKAN, PenaKaltara.com 
- Pelaksanaan Pemilihan Walikota (Pilwako) Tarakan hanya tinggal beberapa bulan lagi. Para calon dapat dipastikan tengah sibuk mempersiapkan segala hal yang dapat mendukung upaya pencalonannya. Mulai dari pencarian pasangan yang cocok, partai pengusung serta kesiapan berkas pendaftaran ke lembaga jawatan.

Hal itulah yang membuat masyarakat selaku pemegang kedaulatan tertinggi sekaligus juga sebagai komentator terbaik mulai tergelitik. Baik untuk menganalisa kecocokan hingga berpendapat atas suatu kriteria. Salah satunya adalah Haryadi Hamid, tokoh dari kalangan pemuda di Tarakan yang juga Ketua DPD KNPI Kota Tarakan sekaligus akademisi dari Universitas Borneo Tarakan. 

Ditemui PenaKaltara.com di kediamannya, Minggu (19/11), Haryadi menceritakan hasil pengamatannya kepada wartawan terkait dinamika politik di Tarakan pada Pra-Pilwako yang rencananya akan dilangsungkan tahun 2018 mendatang. Ia mengatakan 3 orang pasangan calon yang diusung oleh partai politik dalam pertarungan politik Pilwako 2018 menjadi suatu keniscayaan. Sedangkan selebihnya, akan mengambil jalur independen. 

"Ada 4 kandidat potensial untuk calon walikota Tarakan," kata Haryadi. Pertama calon petahana Sofian Raga yang katanya sudah mendapatkan pasangan untuk maju pada Pilwako 2018. "Pasangannya itu juga sudah mendapat rekomendasi partai," ungkapnya.  

Kandidat Kedua yakni Dokter Khairul yang telah memilih berpasangan dengan Efendhi Djuprianto. Beberapa partai telah memperlihatkan rekomendasinya untuk kedua pasangan ini. "Bahkan slogan untuk pasangan ini sudah ada juga," tandasnya.  Ketiga,  pasangan Badrun dan Ince. "Pasangan ini sih lagi berjuang, kalau informasi dari beberapa media baru satu partai yang merekomendasikan," imbuh Haryadi. Dan yang terakhir, Keempat,  Umi. Untuk calon bernama Umi ini, Haryadi mengatakan bahwa meskipun Umi belum mendapatkan pasangan, namun satu-satunya calon wanita itu terus melakukan penjaringan dan kemungkinan besar akan melalui jalur independen. 

Sedangkan Arif yang sebelumnya akan maju dalam Pilwako 2018, Haryadi memperkirakan kemungkinan besar akan menyerah. "Karena berdasarkan informasi yang saya himpun, sudah tidak ada pergerakan lagi," akunya. 

Melihat konstelasi politik saat ini, sambung Haryadi, maka yang paling berpeluang untuk duduk kembali pada periode mendatang tidak lain dan tidak bukan yakni hanya calon petahana Sofian Raga. "Karena lihat sendiri yang lain tampak kurang siap," jelasnya.

Haryadi menambahkan, ketidaksiapan calon lain diluar petahana bukan tanpa alasan. Sebab, hingga kini Dokter Khairul dan Haji Badrun masih berkutat pada urusan perebutan kursi. "Yaa mudah-mudahan saja keduanya mendapatkan kursi, jadi 3 kandidat tetap melalui jalur partai," harapnya sambil tersenyum. Sedangkan Umi,  untuk mendapat pasangan saja masih belum diketahui. Padahal, menurut catatan Haryadi tanggal 26 November 2017 merupakan batas akhir penyerahan berkas awal untuk kandidat dari jalur independen. "Waktunya sangat Mepet," ujarnya. 

GEGER ADI KUSTANTO

Editor : Bobby Furtado